Blog

Opini

High Tech Low Tech

Pengemis Vs DPR

 Pertanyaan klasik tentang mana yang lebih dahulu telur atau ayam, sekarang mendapat saingan. Saingannya adalah mana yang saling meniru, DPR atau pengemis. Memang bukan sepenting pembahasan mengenai telur dan ayam, tapi pertanyaan tentang DPR dan pengemis ini lumayan menyita otak saya. Terutama saat saya sedang jongkok di toilet (seperti biasanya) 

Sebelum mulai mari kita samakan persepsi dahulu bahwa semua pekerjaan itu mulia. Saya menempatkan bahwa DPR dan pengemis adalah sebuah profesi. Penilaiannya terserah anda, kalau anda mengganggap bahwa menjadi DPR adalah profesi yang terhormat maka pengemis juga adalah profesi yang terhormat. Berlaku sebaliknya, jika persepsi anda pengemis itu adalah pekerjaan yang hina maka menjadi DPR juga adalah hina. Yang lebih penting lagi bahwa kedua pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang haram. Buktinya tidak ada lokalisasi untuk keduanya :)

 

Kenapa saya mengajukan pertanyaan ini karena keduanya memiliki kesamaan. Oleh karena adanya persamaan ini maka timbul kecurigaan bahwa keduanya saling tiru. Kalau anda hanya berpikir tentang hal-hal kasat mata mungkin tidak begitu banyak yang bisa ditemukan. Namun jika anda menilai hal-hal yang tidak kasat mata maka akan ada beberapa persamaan yang bisa dimunculkan. Penasaran? Berikut adalah beberapa persamaan pengemis dan DPR.

 

  1. Kemaluan Kecil

    Diperlukan kekuatan mental lebih agar bisa menjadi pengemis. Menghilangkan rasa malu mungkin merupakan tantangan terbesar yang harus ditaklukkan. Pengemis dicemooh karena dianggap malas. Mengharapkan hasil tanpa mau berusaha, hanya mengandalkan pemberian orang saja. Nah kalau DPR kira-kira kenapa ya harus menghilangkan rasa malu atau minimal memiliki kemaluan kecil? Jawabannya adalah karena mirip dengan pengemis, harus berani malu saat meminta (baca menuntut) tunjangan ini-tunjangan itu, harus berani malu kalau tertangkap kamera sedang tidur saat sidang, siap malu dan mencari alasan saat terekam kamera sedang menonton video mamalia berkaki dua sedang tanpa busana :)

  2. Pintar Akting

    Pengemis pintar akting dengan memasang muka memelas saat meminta sedekah. Walaupun mereka bisa jadi memiliki penghasilan lebih banyak dari yang memberi sedekah, pengemis harus bisa menampilan kesan lebih miskin dan susah daripada pemberi sedekah. Kalau DPR juga harus pintar akting, tujuan aktingnya adalah meyakinkan calon pemilih bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah pemilihnya. Walaupun belum tentu mereka bisa. Kalau memang mereka benar-benar pintar maka pastilah kita sudah lebih maju dari Korea Utara :). Jadi dalam hal ini DPR harus terlihat lebih hebat daripada pemilihnya walaupun bisa jadi mereka tidak lebih hebat.

  3. Suka Amnesia

    Misalnya pengemis sudah mengemis di tempat yang sama, mereka tetap saja akan melakukannya lagi tanpa merasa bersalah. Tidak pernah khawatir seandainya mereka bertemu dengan pemberi sedekah yang sama pada hari sebelumnya. Karena mereka sudah mengalami amnesia maka hal ini tidak menjadi soal. Kalau DRP mirip juga bahkan kadarnya lebih parah. Contohnya adalah kalau kampanye suka obral janji yang sama tiap periodenya. Seandainya periode ini tidak bisa ditepati, maka periode kampanye berikutnya janjinya masih sama juga. Anehnya rakyat pemilihnya kok pada mau juga ya hehehehe (yang amnesia rakyatnya apa DPR ya?)

    NB: Dugaan saya mungkin karena model kampanye suka konvoi dengan rute yang jauh dan akhirnya mabuk. Pas sudah di lokasi kampanye akhirnya bicara seperti orang mabuk (karena pengaruh masuk angin dan mabuk perjalanan akibat konvoi)

  4. Menyenangi Kucing (Jinak dan Liar)

    Kalau pengemis suka kucing-kucingan, tapi kalau DPR mungkin bagusnya macan-macanan agar terdengar lebih elegan. Ya pengemis suka kucing-kucingan dengan Tramtib, nah kalau DPR suka macan-macanan sama KPK.

  5. Sama-sama Sendu (Seneng Duit)

    Masih hangat berita tentang pengemis yang menolak tawaran walikota Bandung menjadi petugas kebersihan karena penghasilan mereka sebagai pengemis jauh lebih banyak dari yang ditawarkan oleh walikota. Jadi mereka mau menghasilkan uang yang banyak tanpa melakukan usaha. Nah kalau DPR juga 11-12. Buktinya banyak yang tertangkap sama aparat karena kasus suap. Motivasinya mirip kan? Mendapat uang yang banyak dengan cara yang gampang. (memangnya siapa yang suka susah)

 

Dari contoh diatas saya beranggapan bahwa pengemis dan DPR ada hubungan dan ada kemungkinan memang salah satunya meniru pihak yang lainnya. Untungnya pengemis dan DPR bukanlah saingan sehingga pengemis dan DPR bisa seiring sejalan mencapai tujuan (masing-masing)

 

Lalu siapa yang meniru dan siapa yang memberi contoh. Ini adalah pertanyaan susah. Sama susahnya dengan permasalahan telur dan ayam. Tapi juara tetap harus ditentukan. Menimbang bahwa pengemis ada terlebih dahulu maka akhirnya saya memutuskan bahwa DPR lah yang meniru pengemis. Saya yakin bahwa sebelum ada jaman republik, pengemis sudah ada. Jadi apa yang mereka lakukan sudah ada sejak jaman dahulu. Walaupun dengan berat hati DPR harus kalah dari pengemis.

 

 

 

Daftar Istilah :

 

  1. Pengemis = Orang yang mengandalkan pemberian orang lain untuk bertahan hidup

  2. DPR = Djaman Pengemis Radja (Jaman dimana pengemis menjadi raja, bukan sebagai pekerjaan hina)

  3. KPK= Komisi Pengemis Korupsi (Komisi yang mengurusi pengemis yang melakukan korupsi)

 

NB: Cerita diatas adalah fiktif belaka. Mohon maaf jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama.

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.