Capek AntriSehabis main-main ke taman kota, anak pertama saya tiba-tiba ingin sekali makan jajanan favoritnya. Dengan gaya seorang anak 4 tahun dia merengek kepada saya dan ibunya. Lalu kami memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah toko. Lalu putri kami masuk sendiri untuk berbelanja setelah diberi uang yang cukup untuk membeli jajanannya itu. Lama berselang putri kami belum juga muncul sampai akhirnya isteri saya memutuskan untuk masuk melihat ke dalam.

Benar saja ternyata anak kami sedang menjadi korban orang-orang tolol tidak berbudaya. Kenapa tidak berbudaya karena para orang dewasa yang pastinya sudah tamat sekolah dasar itu terus menyerobot giliran anak kami saat membayar di kasir. Puteri kami memang selalu kami ajarkan untuk antri dan menunggu sesuai gilirannya. Tapi hari ini saya sedikit “menyesal” karena akhirnya malah dia jadi “korban”

Isteri saya sengaja mendiamkan hal itu dan hanya meihat dari luar toko yang bisa dilihat dari jendela kaca yang terpasang di sana. Lalu kami bertanya apakah dia tadi antri saat membayar. Dengan meyakinkan dia menjawab ya. Lalu ibunya bertanya kenapa lama sekali berbelanja. Anak kami kemudian menjelaskan bahwa dia lama di kasir. Dia menuturkan bahwa orang-orang tidak antri. Persis seperti yang dilihat oleh isteri saya.

20 tahun ternyata tidak cukup untuk mendidik bangsa kita untuk antre. Ya, tahun 1991 saat saya kelas 4 SD saya melihat iklan layanan masyarakat di TVRI yang memakai model beberapa ekor bebek untuk mengajarkan kita untuk antri.

Padahal orang-orang yang keluar lebih dulu dari anak saya itu rata-rata berusia muda. Mereka adalah orang-orang yang saya asumsikan tidak bisa antri di kasir saat anak saya membayar jajanannya. Bukan hanya tidak bisa antri tapi juga tidak perduli dan tidak memprioritaskan anak-anak. Hal “sepele” seperti ini seharusnya menjad hal yang ditekankan di sekolah-sekolah (masuk akal nga ya??!!). Atau mungkin sebaiknya ada pengembang perangkat lunak yang membuat apikasi yang bisa mendidik generasi muda kita untuk antri. Karena orang yang keluar lebih dulu dari putri kami sebagian besar sibuk melototi ponsel pintar mereka.

 

 

Salam #seorang ayah yang marah