Saya tidak sedang akan membahas nama waralaba terbaru saat ini. Tapi seandainya Kantin Kejujuran adalah sebuah waralaba maka Kantin Kejujuran adalah waralaba dengan jumlah terbesar di Indonesia saat ini dan pasti tidak akan bisa disaingi oleh kompetitor manapun.

Sebenarnya saya sendiri baru tahu bahwa disekolah-sekolah ada program yang bernama kantin kejujuran. Itupun kalo istri saya ga cerita bahwa beberapa kali kantin kejujuran disekolahnya mengalami kerugian (Tidak banyak, hanya beberapa ribu rupiah saja). Dari obrolan inilah saya tahu bahwa disekolah-sekolah sekarang ada program kantin kejujuran.

Kalo dihitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh tahun tidak menapakkan kaki di sekolah dan kampus. Tamat SMU tahun '99, jadi udah 12 tahun Makanya saya jadi tidak update untuk urusan ini. Tapi sempat cross check ke Ibu saya yang juga seorang guru, belum semua sekolah menerapkan program ini.

Idenya sederhana tapi kalau memang benar-benar dilaksanakan dan berhasil maka program ini bisa merubah mentalitas bangsa kita. Setidaknya dalam beberapa generasi ke depan, mentalitas kejujuran bangsa kita akan membaik. Tapi tetap dengan asumsi bahwa semua cerita pasti punya dua sisi, maka kalau tidak dilaksanakan dengan benar maka makin hancurlah anak-anak kita ke depan.

Seperti kantin pada umumnya yang menjual keperluan anak-anak sekolah, Kantin Kejujuran juga menyediakan hal yang sama. Yang membuatnya berbeda adalah Kantin Kejujuran tidak dijaga oleh siapapun. Jadi kalau ada anak-anak yang hendak berbelanja, maka dia tinggal mengambil sendiri, menaruh uangnya ditempat yang telah disediakan dan kalau perlu kembalian maka dia juga harus mengambil sendiri.

Disinilah kejujuran anak-anak itu diuji dan dibentuk. Cool!!. Ide yang sangat cemerlang menurut saya. Ditempat istri saya mengajar pernah beberapa kali short alias uangnya kurang. Tapi tidak banyak, hanya beberapa ribu rupiah saja. Menilik kepada waktu penerapan yang baru beberapa bulan saja, sepertinya kita tidak boleh berkecil hati dengan program ini.

Perubahan yang dilakukan memang harus pelan-pelan dan dengan melakukan hal ini kepada anak-anak yang masih polos maka diharapkan dalam beberapa generasi mendatang hal-hal yang berhubungan dengan ketidakjujuran di negeri ini akan berkurang.

Bolehlah kita berharap bahwa nanti hal hal menyebalkan yang berhubungan dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme akan berkurang di negeri ini.