Tadi pagi melihat acara tentang 3 orang anak SMP yang menggagalkan aksi pelecehan seksual terhadap teman sekolahnya. Pelakunya seorang tukang ojek yang mencoba melakukan aksi bejat terhadap pelajar SMP dari sekolah yang sama. Setelah menggagalkan aksi itu, ketiga pelajar tersebut kemudian menangkap dan menyerahkan pelaku kepada pihak kepolisian. Tindakan yang berani dan terpuji dari anak-anak yang pemberani mengingat pelaku adalah orang dewasa.

Yang unik dalam proses ini ternyata si pelaku sempat menawarkan uang suap dan juga rokok terhadap anak-anak itu. Tapi ketiga anak-anak ini menolak dan tetap melakukan hal yang benar. Sekali lagi ini adalah tindakan yang mulia karena anak-anak ini tidak terpengaruh oleh tawaran uang suap yang ditawarkan kepada pelaku.

Dari sisi saya pribadi tindakan anak-anak ini sungguh “kurang ajar”. Apa yang mereka lakukan adalah merupakan sindiran yang luar biasa terhadap para orang tua. Sindiran yang benar-benar kurang ajar karena jika suap itu ditawarkan kepada orang dewasa maka reaksinya bisa jadi berbeda. Sepatutnya para pemegang “hak suap” yang mempunyai kemampuan untuk menerima suap bisa belajar dari 3 orang anak ini.

Kemampuan menerima suap dan memberi suap adalah kemampuan unik yang hanya dimiliki orang dewasa. Kemampuan bukanlah kemampuan bawaan namun merupakan hal yang bisa dipelajari. Jadi dengan kondisi ini maka hendaknya kita hindarkan anak-anak kita dari mempelajari kemampuan ini.

Sebuah pembelajaran moral yang patut disimak karena saat ini negeri kita perlu teladan seperti apa yang dilakukan oleh anak-anak ini. Nilai suap yang Cuma Rp. 20.000 memang tidak sebarapa namun secara sadar anak-anak ini menolaknya. Kalau seandainya itu ditawarkan kepada pemegang “hak suap” maka bukan penolakan yang dia lakukan, pasti pemegang “hak suap” itu akan meminta lebih. Bukan serta merta menolaknya.

Jadi pesan moral yang disampaikan kepada para pemegang “hak suap”di negeri ini, berhentilah melakukan hal-hal yang meracuni generasi penerus kita. Malulah anda para pemegang “hak suap” karena justru anak-anak yang memberi teladan. Anda para pemegang “hak suap” pasti tidak mau dikatakan tidak punya malu karena jika anda tidak punya malu itu sama saja anda tidak punya kemaluan. Tau khan artinya kalau anda tidak punya kemaluan khan??!! Capek deh….