Pembicaraan kami dimulai saat dia datang dan berdiri di sebelah saya. Sambil permisi menyalakan rokoknya dia kemudian mengajukan beberapa pertanyaan tentang pertunjukan yang sedang dilihatnya. Namanya Peter, seorang turis asal Denmark yang saya temui di daerah Ubud saat saya sedang menghadiri upacara di rumah istri saya.

Selama pertunjukan akhirnya saya lebih banyak menjadi penerjemahnya karena pertunjukan ini memakai Bahasa Bali tentunya. Walapun sudah 6 kali mengunjungi Bali, namun dia masih menyaksikan gerakan demi gerakan para penari dengan begitu seksama.

A happy religion. Itulah yang dia deskripsikan tentang agama yang dianut oleh orang-orang yang mendiami pulau dengan julukan surga terakhir ini. Ya karena setiap upacara adalah sebuah perayaan. Dalam bahasa yang lebih modern, setiap upacara adalah sebuah selebrasi. Diwakili dari wajah-wajah orang-orang yang menghadiri perayaan itu. Menurut Peter,  ekspresi wajah mereka itu adalah ekspresi yang biasa dia lihat di stadion saat team sepak bola kesayangannya mencetak gol. Namun di Bali, wajah itu adalah wajah yang dia lihat saat penduduknya melakukan ritual upacara agamanya.

Obrolan kami berakhir sekitar jam 10 malam saat pertujukan tari topeng itu berakhir, namun bukan akhir untuk dialog dalam benak saya. Dialog lanjutan yang menyisakan beberapa pertanyaan untuk saya. Pertanyaan tentang sampai kapan  para penganut tradisi adi luhung ini akan bisa bertahan dari serbuan faham lain.

Terlepas dari apapun kondisinya, saya merasa bangga sebagai bagian dari komunitas yang disebut sebagai Happy Religion oleh si Bule Peter itu. Sesuatu yang membuat dia datang sampai kali ke enam dimana dia harus menempuh penerbangan yang sangat jauh dari Eropa sana.

 

Alam yang indah bisa saja ditemui ditempat lain dibelahan bumi ini. Namun tradisi yang unik biasanya adalah mencirikan kekhususan suatu daerah. Inilah yang tidak bisa didapatkan di setiap sudut bumi.