Blog

Opini

High Tech Low Tech

Kematian Mambo Yang Menyedihkan

 

Kemarin saya iseng merapikan Google Bookmarks saya, dan disana masih terlihat ada URL Mambo. Iseng saya klik dan ternyata website nya terlihat menyedihkan. Kematian Content Management System sebesar Mambo ini adalah contoh sebuah kesalahan mendasar yang mengakibatkan sang raksasa ditinggalkan oleh penggunanya. Kesalahan Mambo adalah keinginan para punggawanya untuk mengganti lisensi dari GNU/GPL alias tidak berbayar menjadi perangkat lunak berbayar. 

Seiring dengan keinginan Mambo menjadi software berbayar maka punggawa-punggawa yang tidak setuju memutuskan untuk membuat proyek sejenis dengan lisensi yang sama (GNU/GPL). Maka lahirlah Joomla sebagai tandingan Mambo. Pada masa awal Joomla lahir, basisnya adalah Mambo. Jadi semua extension yang dibuat untuk Mambo bisa berjalan di Joomla. Begitu juga sebaliknya, sehingga kita tidak terlalu merasakan perbedaanya. 

Waktu itu untung saya ikut bermigrasi ke Joomla. Padahal Content Management System pertama yang saya pakai adalah Mambo. Kebetulan waktu itu saya mendapat proyek untuk membuat online katalog dari seorang teman. Setelah proses try and eror akhirnya mapan di Mambo dengan extension Virtuemart. Lalu buru-buru saya bermigrasi ke Joomla. 

Walaupun akhirnya Mambo “tidak jadi” merubah dirinya proprietary software alias perangkat lunak berbayar toh keputusan ini sudah terlambat. Komunitas web dunia sudah merasa dimanja oleh Joomla. Joomla telah melaju dengan kecepatan supersonik meninggalkan Mambo yang merupakan gen aslinya. 

Kalau dulu extension Joomla masih saling kompatibel dengan Mambo, sekarang hampir semua extension Joomla tidak bisa dibenamkan di Mambo. Sejak Joomla 1.6 dimana hampir semua core-nya berubah dari basis Mambo. Apalagi sekarang Joomla sudah mencapai versi 3, maka Mambo sudah benar-benar semaput. 

Well, saya tetap berterimakasih kepada Mambo sebagai CMS pertama yang saya pakai. Sebuah perangkat lunak yang memudahkan saya (sangat memudahkan) dalam proses web design dan developing. Seandainya saya tidak mengenal Mambo, pastilah saya harus memeras otak mengedit kode-kode HTML untuk blog saya ini. 

Dalam web-nya, Mambo mengatakan mencari orang-orang yang berkeinginan untuk mengembangkan Mambo kembali. Ada yang mau? 

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.