Blog

Opini

High Tech Low Tech

Mau Diterbitkan Apa Tidak?

 

Terimakasih kepada kondektur bus yang telah membangunkan saya karena ini menghentikan mimpi buruk yang menegangkan di bus yang saya tumpangi. Hari minggu yang lalu, mungkin karena dinginnya AC dan lelahnya badan maka tidak terasa saya tertidur dengan nyenyak dalam bus. Mimpi tentang keadaan sekeliling saya yang rasanya kurang menyenangkan. Padahal saya hanya tertidur sekitar lima belas menit tapi kisahnya sangat komplit.

Kenapa saya ingin menceritakan mimpi ini karena kata orang tua kalau mimpi buruk maka harus diceritakan agar yang buruk-buruk itu tidak terjadi. Biar tidak terlalu panjang maka langsung saja ke inti permasalahan yang ada dalam mimpi saya itu.

Dalam mimpi itu saya bertemu dengan seorang teman sewaktu SMA dulu. Dia dalam kesulitan karena sedang berurusan dengan pihak kepolisian. Dalam mimpi itu, dia adalah seorang penanggung jawab untuk proyek di kantor tempatnya bekerja. Karena kesalahan administrasi membuatnya dicurigai telah melakukan korupsi.

Setahu saya, teman saya ini adalah orang yang jujur. Masih dalam mimpi berdurasi 15 menit itu, dia bahkan bersumpah kepada saya bahwa tidak melakukan korupsi sepeserpun. Jadi intinya dalam kisah singkat ini dia adalah tokoh protagonisnya alias tokoh yang baik.

Lalu siapa tokoh antagonisnya dalam kisah mimpi dalam bus ini? Mereka adalah trio pendekar yang selalu hadir dalam kisah-kisah korupsi. Polisi, Jaksa dan Wartawan. Ups kenapa wartawan juga ikut. Well ikuti saja dulu kisahnya. Tapi sebelum melanjutkan kisah mimpi buruk ini, saya sebenarnya menyesal kenapa tidak bisa mengontrol mimpi saya ini. Saya berharap bahwa saya bisa mengontrolnya. Namun karena saya tidak bisa mengatur isi mimpi saya maka saya akan lanjut menceritakan apa adanya.

Seperti kisah murahan lainnya, teman saya ini telah diperas oleh oknum penyidik yang menangani kasusnya. Uang ratusan juta Rupiah telah dihabiskan oleh teman saya ini karena diintimidasi oleh penyidik sialan itu. Lalu berlanjut di kejaksaan, nilainya bahkan telah mencapai milyaran Rupiah. Sialnya lagi itu harus uang beneran. Tidak boleh dibayar dengan uang monopoli apalagi dari daun seperti waktu kita kecil dulu.

Saya lalu bertanya kepadanya, darimana dia mendapat uang itu? Dia bilang bahwa itu adalah hasil urunan dari teman-teman yang mengetahui kesusahannya. Dari mereka yang simpati karena mereka tahu teman saya itu adalah orang yang jujur. Namun terjebak dalam situasi yang susah.

Yang paling mengejutkan saya adalah kisah tentang orang-orang yang mengaku sebagai wartawan. Ternyata sebelum semua kisahnya ini melenggang sampai ke penegak hukum, dia telah didatangi oleh beberapa orang yang mengaku sebagai wartawan. Motivnya selalu sama hanya orang-orannya saja yang berbeda. Mereka datang dengn segepok kisah lalu menutup pembicaraan dengan kalimat “Bagaimana, apakah anda ingin ini diberitakan atau tidak?”

Sebuah pertanyaan bodoh untuk seorang wartawan. Kalau kau memang wartawan dan bertanggung jawab atas profesi yang kau jalani yang tentunya kau tidak harus bertanya seperti itu. Pada awalnya berita tentang kasus teman saya itu tidak pernah diterbitkan. Bukan karena dikalahkan oleh berita yang lebih penting tapi karena teman saya itu telah memberi sejumlah uang kepada pengemis yang mengaku wartawan itu.

Namun setelah uang teman saya itu habis dan tidak bisa lagi memberi sedekah kepada pengemis yang mengaku wartawan itu maka berita tentang kasusnya meledak. Ternyata pengemis itu adalah pengemis gadungan. Dia sebenarnya adalah seorang wartawan, terbukti dari berita yang dia terbitkan tentang kasus teman saya itu. Persis seperti cerita yang dia bawa sewaktu dia minta sedekah.

Sebenarnya saya ingin bertanya kepada teman saya apakah dia memiliki bukti tentang pemerasan yang dilakukan oleh trio pendekar itu namun petugas DLLAJ keburu datang. Mereka datang untuk memeriksa secara acak tiket penumpang dalam bus itu. Lalu terbangunlah saya oleh panggilan kondektur yang menggoyang-goyang lengan saya.

Maksud hati melanjutkan tidur namun seorang penumpang yang duduk disebelah saya bertanya apakah saya baik-baik saja. Mereka turis bule dari Norwegia. Dia bertanya karena menurutnya saya terlihat pucat. Lalu saya menceritakan bahwa saya baru saja bermimpi buruk. Dan mimpi itu juga langsung saya ceritakan kepada pasangan kakek-nenek dari Norwegia itu.

Si Kakek bertanya apakah para penegak hukum di Indonesia seperti yang ada dalam mimpi saya itu. Dengan tegas saya katakan bahwa saya sangat meyakini bahwa penegak hukum di negara saya ini adalah para penegak hukum terbaik di dunia (bahkan mungkin di akherat). Lalu si Nenek bertanya, bagaimana dengan wartawannya. Apakah seperti yang ada dalam mimpi saya itu.

Pertanyaan ini benar-benar membuat saya marah. Lalu saya berdiri sambil mencak-mencak kepada mereka. Saya marah karena mereka menganggap wartawan di Indonesia sehina apa yang ada dalam mimpi saya. Sudah saya katakan bahwa alasan saya langsung menceritakan mimpi buruk ini adalah agar ini tidak terjadi. Bukan berarti para wartawan Indonesia seperti itu.

Mereka tidak tahu bahwa wartawan adalah profesi mulia. Wartawan yang bertingkah seperti dalam mimpi saya itu bukan kuli tinta, sebutan yang biasa disematkan kepada para wartawan. Mereka adalah pelacur tinta.

Diludahi saja tidak cukup untuk orang-orang seperti ini. Dikencingi mungkin lumayan, dikentutin cukup masuk akal. Diberaki adalah tindakan wajar untuk kalian para pelacur tinta. Walapun cuma dalam mimpi, tapi tingkah laku kalian benar-benar membuat saya muak.

 

Doa untuk pelacur tinta.

 

Semoga otaknya keram sehingga tidak bisa menulis secara logis

Semoga keyboardnya error seumur hidup

Semoga tidak bisa membedakan antara kertas dengan aspal sehingga tidak bisa menulis catatan tentang apa yang dia tahu.

 

 

Once again FUCK U!!!!!!!!

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.