Dalam perjalanan pulang sekolah, anak saya berkata”Ajik, itu namanya coblos” sambil menunjuk ke arah foto seorang caleg yang mencalonkan diri menjadi anggota DPR di negeri saya tercinta Indonesia. Saya tidak bisa menahan tawa mendengar komentar seorang anak TK yang pastinya belum mengerti dengan apa yang dia ucapkan.

Sesaat kemudian pikiran saya mengembara ke negeri tetangga, ke negeri Hindia Londo yang juga sedang menyambut pesta democrazy yang dilaksanakan setiap 4.75 tahun sekali. Sesampainya di rumah saya kemudian mengirim email kepada teman saya yang berada di negeri Hindia Londo. Email untuk sekedar menanyakan kabar dan kesibukannya karena saya tahu pasti saat ini dia sedang sibuk sekali. Teman saya berprofesi sebagai designer grafis, dimana kemampuannya pasti sangat laris manis belakangan ini di negeri Hindia Londo.

Di negeri Hindia Londo, designer grafis adalah tokoh penentu keberhasilan kampanye seseorang. Karena dengan kemampuannyalah opini dan citra tentang seorang calon pemimpin bisa diraih. OK singkat cerita dia menceritakan keterlibatannya sebagai tim sukses yang telah menelurkan selusin pemimpin di negeri Hindia Londo. Intisari ceritanya adalah kualifikasi dari seseorang yang bisa menjadi pemimpin Hindia Londo.

Adapun syarat untuk menjadi pemipin negeri Hindia Londo ada 3, yaitu :

  1. Ganteng atau Cantik

  2. Bisa Nyanyi

  3. Punya Banyak Penggemar

Wah mirip sekali dengan syarat jadi kontes idola di negeri kita tercinta. Karena penasaran dengan syarat ini akhirnya saya putuskan untuk mengontaknya lewat Scype (produk KW2-nya Skype). Teman saya lalu menjelaskan latar belakang kenapa syarat menjadi pemimpin negeri Hindia Londo lebih mirip kontes idola daripada memimpin sebuah negeri.

  1. Seorang pemimpin harus rupawan (ganteng atau cantik) karena dengan modal itu bisa membuat rakyatnya merasa nyaman.

  2. Pemimpin negeri Hindia Londo harus bisa menyanyi karena kemampuan ini sangat berguna saat rakyatnya bersedih. Sangat terasa dimasa-masa negeri Hindia Londo terkena bencana.

  3. Dengan memiliki penggemar yang melimpah maka tingkat keterpilihannya akan meningkat. Ini adalah syarat mutlak agar bisa menjadi pemimpin dengan system democrazy seperti di negeri Hindia Londo.

Nah lalu kemana larinya kemampuan pemimpin seperti yang harus dimiliki pemimpin seperti pada umumnya? Menurut teman saya itu ternyata rakyat negeri Hindia Londo sudah bosan dengan tipikal pemimpin yang model lama seperti itu. Rakyatnya bosan karena seberapa baguspun kualitas pemimpinnya, mereka tidak membawa perubahan positif bagi rakyatnya. Sepintar-pinta mereka, selalu saja akhirnya membodohi rakyanya. Dengan alasan ini maka kepintaran tidak terlalu diperlukan dan tidak disukai oleh rakyat Hindia Londo.

Telah banyak pemimpin yang pada awalnya memiliki kemampuan yang bagus namun akhirnya tidak bisa membawa perbaikan karena selalu saja kalah melawan musuh utama pemimpin negeri Hindia Londo yaitu korupsi. Ini adalah kejahatan favorit yang dilakukan pemimpin di sana.

 

Untung saja hal ini tidak terjadi di negeri saya tercinta, Indonesia.... huahem....