Blog

Opini

High Tech Low Tech

Satu Foto Sejuta Sandiwara

 

Berbeda dengan saudara mudanya yang kita kenal sebagai video, foto mempunyai kekuatan untuk menyulap sebuah momen menjadi sejuta penafsiran berbeda. Benar, sebuah hasil jepretan bisa menghasilkan sejuta imaginasi. Tergantung siapa yang melihat dan seberapa cerdas orang yang melihat foto itu. Tapi video berbeda dengan saudara tuanya. Kalau satu foto bisa menghasilkan sejuta sandiwara, video adalah kebalikannya. Kadang kita perlu sejuta frame video hanya untuk mengungkap sebuah fakta. Tapi saya tidak akan mengajak anda membahas teknologi foto vs video. Melainkan bagaimana kecendrungan kita (termasuk saya) untuk melihat fakta yang mirip dengan cara kita menilai sebuah foto.

Adalah hal yang sangat menyenangkan kalau kita diberi kebebasan untuk mengartikan sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Tanpa memerlukan penelitian ilmiah, saya yakin asumsi saya ini mendekati kebenaran. Kondisi ini memang terwakili oleh banyaknya kontes foto daripada kontes video (Asumsi pribadi). Penyebabnya apa? Jauh dibawah alam sadar kita semua, kita memang mengharapkan sebuah kebebasan bertindak. Sesuatu yang sebenarnya adalah sebuah “kemewahan” yang tidak dimiliki oleh sebagian besar dari kita.

Contoh yang lazim kita temui dalam film-film adalah foto tentang seorang yang memegang pisau pada tubuh seorang korban penusukan. Satu frame yang dicetak saat seseorang memegang pisau biasanya akan menggiring orang yang memegangnya menjadi tersangka. Padahal jika seandainya itu adalah sebuah rekaman video, bisa saja orang tersebut sedang mencabut pisau yang ditancapkan oleh orang lain dengan tujuan menolong padahal.

Dalam pengalaman profesi saya, saya pernah mendapat tugas untuk memutar rekaman CCTV yang bertujuan untuk mengungkap fakta. Dan itu susahnya minta ampun. Fakta yang dicari hanya berdurasi sekitar 5 detik akan tetapi proses yang harus dijalani sampai memakan waktu hampir 3 jam. Ditambah keraguan (tekanan) untuk memutuskan apakah fakta yang terekam (dan sudah terbukti seperti itu) akan dilaporkan sesuai keadaannya. Tekanan muncul karena keputusan yang saya buat membawa pengaruh finansial bernilai puluhan juta bagi perusahaan tempat saya dulu bekerja.

Pesan yang saya dapat adalah bahwa pengungkapan fakta memerlukan usaha lebih berat dan memang harus seperti itu. Atau setidaknya dalam kenyataannya memang dalam usaha mengungkap sebuah fakta kita harus menggali lebih dalam. Apapun itu!

Asumsi dan imajinasi memang mengasyikan dan memberi kesenangan psikologis untuk kita. Dan walaupun saya sangat setuju bahwa imajinasi lebih penting daripada logika (Fans berat Einstein) tapi dalam pengungkapan fakta, imajinasi bukanlah teman yang baik dalam proses ini. Imajinasi hanya berguna saat kita ingin menciptakan fakta baru, bukan untuk mendapatkan fakta yang dicari.  

 

PS: Jangan takut untuk menilai foto, tapi jadilah orang yang cerdas dalam menilainya. Kecerdasan tidak memerlukan usaha besar, ini hanya melibatkan kebiasaan memisahkan imajinasi dan logika karena imajinasi dan logika memang tidak bisa berjalan bersama J.  

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.