Blog

Opini

High Tech Low Tech

Pengaruh Mie dan Cara Berpikir Kita

Walaupun bukan makanan asli Indonesia, tapi mie telah menjadi salah satu makanan favorit rakyat Indonesia. Mengandung karbohidrat sehingga bisa menjadi pengganti nasi. Rasanya yang gurih dan lezat membuat hampir semua orang menyukainya. Atau setidaknya hampir semua orang Indonesia pernah makan mie. Ayo... siapa yang belum pernah makan mie? Tanpa perlu riset, sepertinya asumsi saya ini benar adanya. 

Baik lanjut lagi, anda boleh membacanya sambil makan mie. Yang akan saya sampaikan ini adalah sebuah asumsi. Jadi jangan tuntut saya mengenai kebenarannya. Teori yang saya pakai adalah teori rasionalisasi irasionalitas. Bahasa sederhananya adalah membuat sesuatu yang tidak masuk akal (irasional) menjadi masuk akal (rasional). Jadi kalau anda tidak setuju dengan pendekatan yang saya pakai, anda masih saya beri kesempatan untuk menutup halaman ini.

Mie yang paling banyak dikonsumsi oleh rakyat Indonesia adalah mie instan. Karena mi instan telah dikonsumsi oleh beberapa generasi maka secara tidak langsung hal ini telah mempengaruhi karakter rakyat kita. Karena sifatnya yang instan alias bisa disajikan dengan cepat, maka begitu pula hasil dari karakter rakyat Indonesia yang dipengaruhinya. Hasil pengaruh ini bisa kita lihat dari yang paling sederhana sampai pada hal yang rumit. Lihat saja contoh berikut ini:

  1. Copy and Paste alias budaya kopas. Dari yang paling sederhana semisal menjiplak tugas sekolah sampai dengan yang lebih serius seperti skripsi bodong. Contoh lainnya adalah menjiplak dan mengkopi blog orang lain tanpa seijin yang punya hehehe. (Not me Man!!) Semua mau agar segala sesuatu berjalan dengan cepat secepat membuat mie instan

  2. Tidak mau antre (kalah sama bebek). Ini adalah juga efek dari kebiasaaan makan mie instan. Tidak usah susah payah tapi hasilnya cepat. Secepat membuat mie instan. Coba saja sampai sekarang masih banyak orang-orang kita yang tidak terbiasa antre. Bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena mereka tidak mau.

  3. Korupsi. Ini juga jelas sekali sebagai bagian dari budaya mie instan. Para koruptor adalah para pecandu kecepatan. Lebih maniak daripada pembalap kelas wahid sekalipun. Koruptor adalah penyembah mi instan yang paling setia dan religius. Mereka ini mengabdikan hidup mereka sepenuhnya kepada budaya mie instan.

Makan mie instan tidaklah salah, tidak juga membuat anda menjadi penjahat apalagi kafir. Tapi bukan berarti setelah makan mie instan trus otak kita juga menjadi sekelas mie instan. Are you with me?? :

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.