Blog

Opini

High Tech Low Tech

Seandainya Buruh Jadi Pengusaha

 

Pikiran nakal, konyol dan mungkin tidak cerdas ini muncul saat saya sedang jongkok di pagi hari. Berandai-andai adalah hobi yang saya sadari sejak kira-kira berumur 4 tahun – saat saya pertama kali berkhayal bahwa menjadi orang dewasa itu pasti menyenangkan. Sambil jongkok saya mendengar di televisi berita tentang demo buruh yang dilakukan di ibu kota.

Pertama tama saya mohon maaf kepada Karl Marx yang telah mati (seandainya memang perlu). Kemudian kepada para intelektual pejuang hak-hak perburuhan (hanya kepada yang memang benar-benar berjuang dengan hati nurani dan ketulusan). Lalu juga kepada mahasiswa yang telah mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memperjuangkan para buruh (hanya kepada mahasiswa yang benar-benar mengerti apa yang mereka perbuat – bukan kepada mahasiswa yang hanya sekedar ikut-ikutan hanya karena banyak temannya yang ikut) Dan juga kepada para buruh yang telah ikut berdemo – yang bahkan meresikokan mereka tidak akan dibayar oleh perusahaannya karena telah melakukan demo (Bukan kepada para pendemo yang diorganisir dan dibayar oleh organiser-nya plus sebungkus nasi, dimana mereka sebenarnya tidak tahu apa yang mereka lakukan)

Dari sisi pekerja – dimana saya juga adalah seorang pekerja – semua tuntutan yang disampaikan mempunyai nilai yang sangat mulia. Saya yakin pasti semua tuntutan bernilai mulia, walaupun saya tidak mendengar detailnya karena dikacaukan oleh suara siraman air kedalam kloset saya. Pancasila sila ke 5 adalah dasar tuntutannya. (Semoga semua pendemo itu hafal sila ke 5 Pancasila – yang berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Beberapa perusahaan mampu memenuhinya, tapi saya yakin banyak juga yang akan gulung tikar karenanya.

Walaupun saya adalah seorang buruh juga, saya tidak akan memposisikan diri saya sebagai buruh. Saya akan memposisikan diri saya seorang anak berumur 4 tahun yang mempunyai rasa ingin tahu yang dalam. Pertanyaan saya adalah

Seandainya para pendemo itu diberi kesempatan di posisi pengusaha, apakah mereka akan memberikan semua hak-hak kepada pekerjanya seperti yang mereka tuntut”

Berita demo buruh ini mengingatkan saya pada seorang teman masa kecil saya. Dari kecil dia terkenal karena sangat pemberani. Menjadi semakin terkenal karena kenekatannya melanggar aturan di sekolah. Sesuatu yang jarang berani dilakukan oleh anak seusia kami pada waktu SD. Setelah terpisah sekian lama, saya dengar kelakuannya masih sama. Ditempat kerja dia terkenal pemberani. Pemberani untuk urusan melanggar aturan di tempatnya bekerja. Ketenarannya melebihi karyawan yang berprestasi hehehe.

Lama tidak bertemu, tiga minggu yang lalu saya bertemu dia kembali setelah kurang lebih 15 tahun. Saya bertanya apakah dia masih suka nekat seperti waktu keci. Dengan bangga bercerita bahwa tidak ada yang berubah dari dirinya. Dia bercerita bahwa pernah memimpin rekan-rekannya berdemo karena perusahaanya tidak memenuhi beberapa pasal yang telah disepakati bersama.

Saya langsung tertawa terbahak-bahak. Gerombolan apa gerangan yang telah mempercayai kamu untuk memimpin mereka. Dan benar hal itu saya utarakan ke dia. Kami adalah sepasang sahabat yang sangat akrab sehingga tidak ada batasan dalam mengungkapkan hal seperti ini.

Saya bertanya kepadanya “Bagaimana kau punya muka untuk menuntut orang mematuhi aturan, padahal kau sendiri tidak mematuhi aturan yang ada?”. “Memang benar kau tidak pernah berubah bro. Kau masih saja mengalami kendala dalam memakai otakmu” itu yang saya bilang kepadanya sambil tertawa terbahak-bahak juga. Memang yang membuat saya begitu dekat dengan si nekat ini adalah karena dia memang bermasalah dalam memaki otaknya. Waktu kecil saya sering membantunya menyelesaikan tugas sekolah. Itulah awal pertemanan kami. Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak terpengaruh oleh gertakkannya. Bukan karena saya sama-sama nekat. Tapi karena dia memerlukan saya hehehehe. Tapi seiring perjalanan waktu kami menjadi sahabat yang dekat. Sehingga seberapapun saya mengkritiknya dia tidak pernah mempermasalahkannya. (Saya tidak pernah mengkritiknya di depan umum).

Sekali lagi saya berandai-andai, kalau saja teman saya berada di posisi yang terbalik apakah dia akan mematuhi aturan yang ada. Apakah dia akan memenuhi hak-hak para buruh itu? Saya sebagai orang yang mengenalnya berani menjawab dia tidak akan memenuhinya. Dia pasti akan melanggarnya jugahehehe. Persis seperti dia melanggar aturan-aturan yang ada di tempatnya bekerja.

Mudah-mudahan itu bukan karakter yang ada pada para pejuang hak-hak buruh. Bukan juga karakter para mahasiswa yang rela mengorbankan skripsinya demi memperjuangkan hak-hak orang lain – yang bahkan tidak mereka kenal secara pribadi. Karena kalau karakternya ternyata sama saja (dalam artian suka melanggar aturan) maka mereka belum layak disebut intelektual pejuang hak-hak buruh. Mereka hanya numpang beken saja dan setahu saya sekarang ada banyak acara yang bisa bikin kita beken – Indonesian Idol misalnya :).

 

Oh ya, diakhir pembicaran teman saya juga bilang bahwa dia berencana untuk mencalonkan diri menjadi anggota Dewan. Dan saya langsung bilang “Saya akan golput untuk kau bro, untuk menghormati habisnya pilihan orang waras di daerah ini”. Sebagai balasannya dia langsung melempari saya dengan sebuah bolpen yang ada didekatnya sambil tertawa terbahak-bahak. 

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.