Ada perasaan sedih sewaktu membaca review para pelancong yang mengunjungi Pura Besakih yang terkenal sebagai The Mother Temple. Ulasan ini saya baca di situs TripAdvisor yang mana para pengunjung tersebut mengeluhkan tentang pengalaman mereka disana. Padahal sebagai tempat yang religius, seharusnya mereka mendapat kesan yang baik tentang The Mother Temple. Pura Besakih berada di bagian timur Pulau Bali, tepatnya di kabupaten Karangasem. Lokasinya bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam dari Denpasar atau 2 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Pura Besakih sendiri merupakan kompleks pura terbesar yang ada di Bali. Terdiri dari beberapa bagian yang dipuja oleh semua pemeluk agama Hindu Bali.

Sebagai sebuah atraksi wisata, semua wisatawan mengakui keindahan Besakih. Nuansa dan vibrasi religius sangat terasa sepanjang perjalanan menuju kesana. Setidaknya itulah yang rata-rata dirasakan oleh para wisatawan yang menuliskan ulasan mereka d TripAdvisor. 

Nah kembali kepada hasil pengamatan saya terhadap ulasan mengenai The Mother Temple, sebagian besar para pelancong mengeluhkan tentang kelakuan orang-orang disekitar sana yang kurang menyenangkan. Pada umumnya para pelancong baik itu domestik maupun wisatawan internasional merasakan adanya pemaksaan untuk memakai jasa para guide lokal yang ada disekitar pura tersebut yang berbuntut pada . Selain itu  mereka juga merasa dipaksa untuk memakai jasa transportasi yang dari tempat parkir (yang cukup jauh) menuju ke pura yang tarifnya relatif mahal. Salah satu komentar yang menarik adalah bahwa menurut seorang pengunjung, The Mother Temple adalah tempat yang indah namun dikelola dengan cara yang buruk. (Hiks hiks hiks)

Saya sendiri memang bukan kali pertama mendengar hal ini namun ini adalah kali pertama saya membaca langsung ulasan mengenai The Mother Temple yang bersumber langsung dari wisatawan luar negeri yang datang ke Pulau Dewata ini. Beberapa kali saya membaca dikoran lokal mengenai hal ini, namun saya merasa belum begitu tergerak tapi begitu melihat ulasan langsungnya hati jadi sedih juga. Saya sendiri belum pernah datang ke Pura Besakih dengan selain dalam rangka sembahyang. Sehingga saya tidak mempunyai bayangan tentang bagaimana pengaturan yang dimaksud oleh salah seorang pemgunjung tersebut. Lalu saya bicarakan hal ini dengan salah seorang teman dan kemudian langsung menunjukkan halaman web di TripAdvisor yang mengulas tentang The Mother Temple. Ternyata dia pernah mempunyai pengalaman mengantar salah seorang temannya dari luar negeri ke Pura Besakih dan dia merasakan perlakuan yang seperti banyak dikemukakan oleh para pengunjung yang memberikan masukan di TripAdvisor.

Saya berharap situasi ini akan bisa berubah karena hal ini adalah sesuatu yang mencoreng citra kita di mata wisatawan. Kalo urusan solusi, sepertinya saya nitip saja ke para anggota dewan yang terhormat yang pastinya sudah lebih pintar mencari solusi (wakakakaka). Semoga harapan ini menjadi kenyataan.