Blog

Opini

High Tech Low Tech

(Kembali ke) Pasar Tradisional

 

Seorang teman mempelopori dan “menghasut” warga di lingkungannya untuk tidak berbelanja ke pasar modern yang berada di lingkungannya. Langkah ini dilakukan bertepatan dengan momen menjamurnya pasar modern yang merambah sampai ke pelosok-pelosok. Pasar modern atau toko modern hasil waralaba ini memang kian merangsek. Bahkan mereka langsung mengambil posisi di dekat pasar tradisional.

Alasannya sohib saya cukup masuk akal. Keuntungan toko waralaba itu sama sekali tidak berkontribusi kepada wilayahnya. Kalaupun sang pemilik waralaba adalah warga setempat, hasilnya tidak seratus persen menjadi miliknya. Harus ada sekian persen yang masuk ke waralaba yang dipakai.

Selain itu toko modern itu mematikan perekonomian masyarakat setempat. Karena banyak toko tradisional lain yang gulung tikar karena kehadiran toko modern itu. Modus yang umum dipakai dengan memberikan harga yang lebih murah pada awal toko modern itu buka. Sampai toko-toko tradisional pesaingnya mati, barulah mereka menaikkan harga. Gilanya harga yang ditawarkan jauh dari yang diberikan oleh toko-toko tradisional.

Secara cerdas dia menanamkan kesadaran arus modal yang akan terjaga seandainya masyarakat lebih memilih berbelanja di toko-toko milik warga sekitar. Hal ini bukan tanpa tantangan karena persaingan terbesar ada dalam komunitas terkecil. Pada awalnya sewaktu diberi pemahaman bahwa berbelanja ke toko modern dapat melumpuhkan perekonomian warga lokal, warga lokal malah semakin menggila berbelanja disana. Persaingan antar warga lokal menyebabkan mereka malah memilih cara ini agar orang yang tidak disukainya bangkrut.

Namun lambat laun masyarakat makin mengerti dan sadar akan kerugian yang ditimbulkan. Contoh sederhana jika ada kegiatan warga, maka partisipasi warga berkurang karena para pemilik toko di pasar tradisional tidak lagi bisa menyumbang. Sedangkan toko modern tidak mau berperan serta dalam kegiatan ini. Jalur administrasi untuk meminta sumbangan juga sangat panjang karena urusannya sangat formal.

Sekarang dua waralaba besar sudah menyingkir dari sana. Tidak kuat menghadapi kekuatan masyarakat yang dibangun dengan persepsi dan komitmen yang kuat. Proteksi sederhana yang digagas seorang pemuda yang brilian. Walalupun dia tidak mendapat keuntungan ekonomis dari tindakannya.

NB: Dia seorang dosen muda yang berkarya nyata. Kalau calegnya model-model begini, saya jamin tidak akan golput hehehe. 

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.