Mungkin rekan-rekan semua sudah tahu bahwa dalam seminggu belakangan ini stasiun-stasiun TV kita ramai memberitakan pak Polisi ganteng yang saya lupa namanya. Memang secara fisik bapak polisi dimaksud memang ganteng (see even a man confess it). Terus dalam beberapa wawancara yang ditayangkan TV, saya mendapat kesan bahwa orangya juga sopan dan ramah. Polisi ini tiba-tiba menjadi terkenal setelah seseorang mengunggah fotonya ke jejaring social Twitter. Memang internet bisa membuat seseorang mendadak terkenal dengan cepat. Sudah banyak contoh yang saya tidak harus sebutkan lagi disini.

Dalam konteks yang berbeda, saya merasa geli dengan berita-berita tentang pak polisi ini. Aneh saja kalau berita tentang polisi malah lebih banyak ditayangkan oleh infotainment yang nota bene biasanya lebih banyak membahas selebritis kita. Atau mungkin ini adalah ekspresi kerinduan rakyat kita akan polisi yang baik (baca polisi yang bisa membuat rakyat senang he he he) Kalau polisi yang membuat penguasa senang sih sudah biasa tapi polisi yang bisa bikin rakyat senang itu baru luar biasa. Sekali lagi mungkin ini adalah ekspresi bawah sadar rakyat Indonesia (lebay mode on)

Mungkin banyak polisi baik di negeri ini tapi keharuman mereka jadi terbenam oleh ulah hanya segelintir polisi kotor yang menyebabkan institusi kepolisian tercoreng. Yang paling bikin iri hati sih mereka yang punya rekening gendut he he he

Saya jadi teringat dengan teman SMU saya yang memilih untuk berkarir sebagai polisi. Namanya Komang Puterawan. Terakhir kali bertemu dengannya sekitar 2008 sewaktu dia bertugas untuk pengamanan sebuah konferensi di hotel tempat saya bekerja. Kalo teman saya yang ini, saya berani menjamin dia adalah seorang polisi baik dan juga ganteng (minimal kata istrinya dan saya he he he he). Kebetulan istrinya juga teman sekelas saya dulu waktu SMU. Nah setelah mereka menikah dan punya anak, istrinya memutuskan untuk memulai usaha dengan membuka warung. Sang suami dengan aktif membantu terutama untuk urusan proses pencarian dan pembelian barang di pasar (kalau tidak salah di wilayah Tabanan-Bali, tempat dia waktu itu ditugaskan.

Komang ini sama sekali tidak menunjukkan dirinya atau mengaku sebagai seorang polisi kepada rekanan tempat dia membeli bahan dagangan yang akan dia jual kembali. Keramahannya terkenal sentero pasar. Waktu saya bertanya kenapa dia tidak mau mengaku sebagai polis, dia menjawab karena tidak mau membikin malu atasan dan korps-nya sebab selama proses mencari bahan-bahan untuk dijual kembali itu, Komang sendiri yang mengangkut dan memikul barangnya. Kadang dalam bungkusan karung atau kadang dus besar. Inilah yang menjadi pertimbangannya untuk tetap menjaga kerahasiaannya.

Rahasianya ini terbongkar sewaktu di depan pasar itu ada kecelakaan lalu lintas dimana tidak ada seorang pun yang menolong si korban. Dengan sigap dan penuh rasa tanggung jawab dia menolong korban itu dan menghubungi Polsek terdekat. Dalam proses komunikasi itulah orang-orang di pasar itu akhirnya mengetahui bahwa Komang teman saya itu adalah seorang polisi. Karena dalam proses pelaporan itu tentunya kita dimintai identitas oleh pihak kepolisian. Sejak saat itu Komang menjadi selebritis lokal di pasar itu.Banyak kemudahan yang dia dapatkan (dalam batasan wajar) tapi dia malah jadi malu dengan kondisi itu.

Sekarang dia sudah pindah tugas ke daerah Maluku. Lama sekali tidak pernah bertemu dan berkomunikasi. Hope you are well buddy!!!. Teman saya ini adalah sebuah contoh ketulusan dalam menjalani peran yang dia pilih. Kalau memang ingin penghasilan tambahan maka dia memang berusaha mendapat dari usaha lain. Usaha itupun dia tempuh tanpa “menjual” posisinya sebagai seorang polisi.

Ingin sekali polisi kita dihormati karena pengabdian dan ketulusannya.Mungkin sedikit berlebihan kalau kita memakai dua kata itu (pengabdian dan ketulusan) tapi bukankankah sewaktu memutuskan untuk menjadi polisi atau jenis pekerjaan apapun kita sudah sadar dengan konskwensinya????