Jujur, terdengar sederhana namun memerlukan usaha luar biasa untuk bisa menjaganya. Namun jika kita bisa selalu menjaga kejujuran kita, maka niscaya kita pasti akan bisa mendapatkan penghormatan dari rekan kerja kita. Begitu juga sebaliknya, jika kita tidak bisa mempertahankan kejujuran kita maka pasti kita akan kehilangan respek dari mereka.

Kehilangan respek ini akan berdampak terhadap meningkatnya tantangan dalam menuntaskan pekerjaan-pekerjaan yang harus kita selesaikan. Salah-salah malahbisa membuat kita tidak bisa menuntaskan pekerjaan yang seharusnya kita selesaikan. Hal ini mungkin saja terjadi jika pekerjaan yang hendak kita selesaikan sangat bergantung dengan kemampuan orang yang pernah kita “bohongi” tersebut.

Ilustrasi berikut ini mungkin bisa dijadikan bahan dimana kejujuran Anda sangat berharga dan akan menghasilkan sesuatu yang lebih positif dari pada tindakan berbohong yang pada akhirnya menuntut kita untuk melakukan kebohogan lain untuk menututupinya.

Takut dianggap bodoh

Dalam sebuah perbincangan sewaktu istirahat siang, seorang karyawan baru (sebut saja A) menanyakan kepada rekan kerjanya mengenai solusi untuk masalah yang telah dia hadapi dengan pelanggannya. Kemudian B dengan tulus memberikan solusi berdasarkan pengalaman dan aturan yang berlaku ditempat kerjanya itu. Sebenarnya si karyawan baru telah memberikan keputusan yang berbeda dengan apa yang disarankan oleh si karyawan lama. Dan yang makin membuat runyam adalah keputusan yang dibuat oleh karyawan baru tersebut ternyata bertentangan atau tidak sejalan dengan policy (aturan) yang berlaku di perusahaan tersebut. Karena egonya dan tidak ingin terlihat bodoh, maka dia mengatakan bahwa dia belum membuatkeputusan apapun dan akan memberikan solusi seperti yang disarankan oleh karwan lama. Padahal sejatinya dia telah membuat keputusan yang berlawanan dengan apa yang disarankan oleh karyawan lama itu. Dia mengatakan akan segera menemui pelanggan yang bermasalah tersebut setelah makan siang berakhir.

Lima belas menit kemudian makan siang itu berakhir. Kedua orang karyawan itu kembali kepada aktivitas mereka masing-masing. Disinilah awal kebohongan itu terbongkar. Seorang bawahan si karyawan baru bertanya kepada si karyawan baru tentang penyelesaian masalah pelanggannya itu. Si karyawan baru menjelaskan kepada bawahannya bahwa solusinya masih sama dengan yang sebelumnya. Si karyawan baru juga menjelaskan bahwa masalah baru telah timbul karena ternyata keputusan yang dia buat ternyata tidak sejalan dengan aturan perusahaan. Secara kebetulan hal ini didengar oleh si karyawan lama karena dia telah berada di kantor terlebih dahulu namun hal ini tidak disadari oleh si karyawan baru. Si karyawan lama merasa jengkel karena sebenarnya si kayawan baru telah membuat keputusan sebelum berdiskusi dengannya tapi tidak berkata jujur. Dia menyembunyikan fakta karena takut dianggap bodoh karena ksalahannya itu.

Nah apa yang terjadi berikutnya adalah si karyawan lama tidak lagi memberikan bantuan kepada karyawan baru itu karena dia telah berbohong. Kebohongan ini telah membuat si karyawan lama kehilangan respek terhadap rekan barunya. Selanjutnya dengan berjalannya waktu, si karyawan baru ini ternyata banyak melakukan kebohongan-kebohongan lain yang pada dasanya merupakan tindakan untuk menyembunyikan kebohongan yang lebih awal.

Mengklaim Hasil Kerja Orang Lain

Ada lagi bentuk ketidakjujuran lain yang bisa berakibat tidak baik untuk kita yakni mengklaim hasil kerja orang lain. Coba simak ilustrasi berikut ini. Seorang karyawan jahat (kita sebut saja Penjahat) meminta tolong kepada seorang karyawan baik (kita sebut saja Penjahit). Si penjahat bukan sekedar meminta pertolongan ringan namun memerlukan skill yang tidak dia miliki dan tidak juga dimiliki oleh kebanyakan karyawan yang ada disana.

Setelah pekerjaan itu selesai, Penjahat segera melaporkan kepada atasannya dan mengatakan bahwa dia telah mengurus semuanya tanpa menyebutkan bahwa dia telah dibantu oleh Penjahit. Akan tetapi sebelum Penjahat melaporkan hal itu, Penjahit telah sempat berkomunikasi dengan atasannya tersebut karena keputusan yang dibuat itu memerlukan persetujuan dari atasannya tersebut.

Setelah meneriima laporan dari Penjahat, sang atasan yang bijak ini kemudian menghubungi kembali Penjahit untuk memastikan siapa yang telah mengerjakan pekerjaan yang dimaksud. Karena merasa memang telah menyelesaikan pekerjaan tersebut, Penjahit dengan jujur mengatakan bahwa itu adalah hasil dari kerja kerasnya.

Efek berikutnya sudah pasti bisa ditebak bahwa si Penjahat kehilangan respek dari dua orang sekaligus. Dia kehilangan respek dari Penjahit dan sekaligus dari atasannya. Dari kedua ilustrasi diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa memang kejujuran sangat penting dalam menjaga hubungan kita dengan rekan kerja. Bisa dipastikan Anda akan mendapatkan lebih banyak dengan berlaku jujur ditempat kerja.