Blog

Opini

High Tech Low Tech

Skripsi oh Skripsi

 

Waktu saya iseng melihat BB istri saya yang kebetulan lagi buka Twitter, saya melihat tweet salah satu saudara sepupunya yang sepertinya sedang bad mood karena skripsinya sedang macet. Memang pembuatan skripsi sebagain syarat untuk menjadi sarjana merupakan salah satu tantangan terbesar untuk sebagian besar mahasiswa kita.

Balik lagi kepada tweet sepupu istri saya yang pada intinya menghujat sang dosen yang digambarkan sebagai pribadi yang menyebalkan. Selain itu menyebalkan sang dosen juga dinilai sering menyusahkan dan suka memaksakan kehendak.

Saya juga pernah mengalami repotnya membuat skripsi sekitar 9 tahun yang lalu. Di kampus saya ada kecendrungan untuk tidak mengerjakan tugas akhir yang merupakan syarat kelulusan jika mahasiswa itu sudah bekerja. Sebagai kampus pariwisata, memang banyak mahasiswanya yang telah bekerja sebelum menyelesaikan perkuliahannya. Bahkan ada bekas Manager saya dulu tidak pernah membuat skripsi alias tidak lulus secara formal. Tapi kabar terakhir dia menempati posisi direktur di salah satu resort besar di Lombok. Memang industry perhotelan tidak terlalu menuntut gelar formal, kemampuan nyata memang lebih diperlukan karena percuma saja kalo banyak gelar tapi tidak bisa bekerja he he he he.

Skripsi saya juga mempunyai kisah yang bisa dibilang unik karena saya mengerjakannya setelah saya diberhentikan dari tempat saya bekerja karena efek dari meledaknya bom Bali I pada Oktober 2002. Setelah bom meledak banyak karyawan hotel yang dirumahkan. Dengan status saya yang masih tenaga harian maka saya adalah salah satu dari bagian pertama yang diberhentikan.

Skripsi itu sendiri sebenarnya sudah sempat mandeg selama empat bulan tanpa pernah saya sentuh dengan alas an sibuk bekerja. Waktu itu saya memang sengaja minta untuj bekerja pada shift sore agar bisa mengerjakan skripsi dan datang ke kampus pada pagi atau siang harinya. Namun rencana tinggal rencana karena sehabis bekerja sampai jam 1 malem, paginya otomatis saya sudah tidak punya cukup tenaga untuk datang ke kampus.

Setelah bingung mencari kesibukan sehabis di PHK akhirnya saya mendapat ide untuk mengerjakan skripsi saja mumpung tidak ada hotel manapun di Bali yang membuka lowongan untuk karyawan baru. Orang karyawan yang ada saja sudah banyak dirumahkan. Pada saat muncul pertama kali ke kampus untuk melanjutkan skripsi itu, dosen saya benar-benar marah karena saya sudah tidak pernah muncul selama kurang lebih empat bulan. Well… saya tidak bisa berbuat apa-apa dan memang tidak punya pilihan selain minta maaf dan berjanji untuk berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaiakan skripsi saya itu. Penjelasan saya mengenai jadwal kerja yang melelahkan juga dianggap angin lalu oleh Bu Dosen.

Karena proses awal yang tidak mengenakkan ini saya jadi serba salah dengan dosen pembimbing saya. Berbeda dengan kebanyakan teman-teman saya yang secara aktif mencari dosen untuk bimbingan ke rumah mereka, saya hanya melakukan proses bimbingan skripsi saya di kampus. Setelah dengan proses berdarah-darah akhirnya skripsi saya kelar juga he he he he. Skripsi paling tipis (untuk angkatan saya) dengan nilai A. Pokok bahasannya adalah seluk beluk pekerjaan yang saya lakukan sehingga pada saat ujian sama sekali tidak ada masalah untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan dosen penguji.

Sekarang ini setelah mengalami sendiri proses pembuatan skripsi yang kebetulan membahas sesuatu yang sangat saya kuasai, saya mengambil kesimpulan bahwa kesulitan yang dialami oleh para adik kelas (termasuk sepupu istri saya itu) disebabkan oleh ketidakmengertian mereka tentang hal yang mereka kerjakan. Tapi ini adalah keadaan sekarang dengan kondisi psikologis yang lebih stabil dan (mungkin) lebih dewasa dari wakktu kuliah he he he. Dulu saya juga sering dongkol dengan revisi-revisi yang diinstruksikan oleh dosen pembimbing.

Kalau sekarang setelah berada diluar system, saya dapat mengerti bahwa sebenarnya untuk penulisan ilmiah seperti skripsi memang harus ada kaidah-kaidah formal yang harus dipenuhi sehingga dosen pembimbing kita terkesan sangat cerewet. Sampai-sampai ada menyumpahi biar anak cucunya juga mendapat kesulitan yang lebih besar waktu mereka membuat skripsi he he he. Selain itu kurangya wawasan mahasiswa juga bisa jadi biang kerok untuk hal ini. Seingat saya dulu yang paling menyebalkan adalah susahnya menemukan referensi yang pas untuk pokok masalah yang saya bahas. Tapi dosen pembimbing selalu saja punya solusi untuk masalah yang saya hadapi.

Yang paling kentara adalah proses deskripsi permasalahan yang akan dibahas. Padahal penjelasannya sudah ada dikepala dan merasa bisa mengerti dengan baik pokok permsalahan yang dibahas tapi setelah harus menuangkan dalam bentuk tulisan malah jadi bingung. Itu karena kita tidak biasa untuk membuat laporan bahkan untuk deskripsi sederhana. Trus apakah mungkin karena factor ini kemudian jasa pembuatan skripsi jadi marak? Entahlah, bahas lain kali saja karena mata sudah capek. Night…

 Photo by Sharon Dumond@Flickr

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.