Kita pasti sudah akrab dengan jejaring social macam Facebook, Twitter, Google Plus, Linkedin dan beberapa jejaring social yang lain. Pasti tahu juga dong bahwa yang disebutkan terakhir itu dipake untuk professional resume kita. Ya mirip CV online yang bisa diakses oleh semua koneksi kita. Baru saja saya menerima email dari Linkedin yang menyatakan bahwa saya adalah salah satu dari 1 juta pengguna Linkedin yang baru saja diraih oleh pengguna dari Indonesia (jumlah total katanya 150 juta).

Trus iseng-iseng lihat lagi profile Linkedin saya dan system secara otomatis menyarankan untuk menambah beberapa koneksi yang sekiranya saya kenal (hal yang normal untuk jejaring social). Lalu saya klik salah satu foto dan nama yang memang sudah lama saya kenal. Saya lihat profilnya tertata dengan sangat rapi dan meyakinkan. Diatur mulai dari pencapaian prestasi terakhir hingga yang paling awal masa dia meniti karir (yang kurang lebih berbarengan dengan saya).

Saya sudah lumayan lama berpisah dengan rekan yang satu ini. Sebenarnya kami lumayan akrab karena pernah kuliah bareng dan sempat bekerja di tempat yang sama pula. Keanehan mulai muncul saat saya membaca bagian bawah-bawah posisi-posisi yang pernah dia tempati. Disitu dia tulis bahwa dia pernah menempati posisi yang setahu saya dia tidak pernah tempati. Dengan hati hati saya baca lagi untuk meyakinkan diri saya dan memang benar dia menulis posisi yang dia tidak pernah tempati. Wah-wah bohong dia he he he.

Saya kurang begitu bisa menebak alasan dia melakukan itu karena dia berbohong untuk posisi yang kecil dibandingkan dengan posisinya saat ini. Mulailah otak usil saya menebak-nebak alasan dia melakukan itu.

  1. Biar lebih keren karena akan kelihatan jenjang karir yang terus meningkat.
  2. Pernah berbohong di tempat lain dengan mengirim CV yang berisi jabatan seperti yang dia deskripsikan itu. Kemudian untuk menutupi kebohongan itu, maka dia membuat kebohongan ini (yang di Linkedin) agar nampak konsisten he he he.

Apapun alasannya kelakuannya ini benar-benar terlihat konyol dimata saya. Akan lain halnya jika kita berbohong di profile jejaring social yang lain semisal Facebook, Twitter atau yang lain yang tidak berhubungan dengan dunia professional yang dia geluti. Kita pasti sudah sering melihat data-data palsu pada profil teman-teman kita di Facebook. Ada yang berbohong mengenai pekerjaan, status, foto-foto dan lainnya. Tapi kebohongan di Linkedin menurut saya adalah tindakan bodoh karena nantinya berefek ke image kita sendiri. Bagaimana kalau seandainya orang-orang yang berkepentingan melakukan reference check? (dan saya rasa kalau sudah berurusan dengan pekerjaan, pasti akan dilakukan reference check). Nah pasti tidak dipercaya kita nanti.