Blog

Opini

High Tech Low Tech

Berempati Kepada Koruptor?

 

Dalam perjalanan pulang kerja, entah kenapa sempat terlintas dalam pikiran saya untuk menempatkan diri pada posisi koruptor yang banyak menghiasi media massa kita. Seolah-olah berempati kepada koruptor itu, sebuah pilihan sikap yang mungkin akan banyak dicemooh orang. Lalu kenapa sampai ide nyeleneh itu muncul? Karena saya berpikir bahwa seandainya saya ada di posisi mereka, belum tentu saya tidak melakukan korupsi seperti yang mereka lalukan. Banyak dari para koruptor yang tertangkap itu merupakan orang-orang dengan tugas dan tanggung jawab yang besar. Memegang kekuasaan yang besar atas pengelolaan keuangan di institusinya. Namun “katanya” kesejahteraan mereka “kurang” sehingga menempuh jalan singkat dengan melakukan korupsi.

Lalu dengan ditangkapnya mereka nasib keluarganya juga menjadi amburadul. Selain menjadi sibuk dengan urusan hukum, keluarga koruptor itu juga menjadi malu karena tekanan dari lingkungannya. Membayangkan kondisi ini saya jadi berubah pikiran lagi. Pasti susah kalau menjadi koruptor karena memerlukan kekuatan psokologis ekstra. Menyadari hal ini, sekarang saya menjadi simpati saja dengan para koruptor. Simpati dalam artian kasihan karena alasan kemanusiaan saja. Sama kondisinya jika kita melihat orang yang sedang mengalami kesusahan. Pasti rasa simpati kita akan muncul.

Saya sedangg berhenti di lampu merah pada saat saya berpikir untuk memberikan simpati kepada para koruptor hanya karena alasan kemanusiaan itu. Tiba-tiba khayalan nakal saya itu berhenti, bukan oleh lampu merah tapi oleh segerombolan anak-anak gepeng yang ada di lampu merah itu. Wajah mereka seolah-olah berkata bahwa kamilah yang pantas untuk diberi simpati, bukan mereka yang telah menikmati begitu banyak hal berlebih dalam hidup mereka.

Melihat sorot mata para anak-anak gepeng itu, khayalan  saya memudar dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak memberi bahkan hanya sekedar simpati kepada para koruptor itu. Yang paling layak adalah hukuman terberat yang paling mungkin dijatuhkan. Karena koruptor itulah yang telah membuat kondisi negeri ini menjadi seperti ini. Yang membuat semua menjadi lebih mahal dari yang seharusnya. Pengetahuan saya tentang ekonomi nol besar, tapi logika saya mengatakan bahwa jika tidak ada korupsi maka harga barang-barang pasti lebih murah.

Bayangkan jika tidak ada biaya tambahan untuk pengurusan ijin, pasti biaya siluman  itu tidak akan dibebankan kepada konsumen. Begitu juga jika tidak ada pungutan liar di jalan raya atas pengiriman barang, pasti harga barang akan menjadi lebih murah. Karena produsen pasti akan menghitung biaya itu ke dalam harga pokok barang. Secara umum pasti dunia akan lebih indah jika korupsi bisa ditekan. Harapan saya dan harapan semua orang (yang tidak punya hubungan dengan koruptor he he he he) 

GNU's Not Unix!

Walaupun tidak bisa 100% Open Source, tapi saya adalah big fans of Open Source. Salut untuk penggiat Open Source sehingga kita berkesempatan untuk belajar dan berbagi besama. 

Ubuntu Linux

Ubuntu adalah OS resmi saya  dari tahun 2005 dan hanya 2 kondisi yang bisa memaksa saya untuk tidak memakai Linux. Istri saya ngambek karena tidak terbiasa dengan interface dan komputer di kantor yang semuanya memakai Window$.

Green Peace

Sangat mengagumi kegigihan para pejuang lingkungan di Greenpeace. Salut untuk semua usaha mereka untuk mewariskan lingkungan yang terjaga untuk anak cucu kita. 

Ernesto Guevara de la Serna

Sikap dan prinsipnya belum ada yang bisa meniru sampai saat ini.

Guns n Roses

Love the music so much. Saya menyebutnya musik yang serius dan nggotanya genius. Setelah Guns n Roses bubar, menurut saya perkembangan musik dunia sudah berhenti (Maksa.......)  

Joomla. Because Open Source Matter

Joomla memberikan kemudahan luar biasa untuk urusan blogging. Memang sempat terpikir untuk memakai Wordpress seperti kebanyakan blogger lain tapi karena sudah kadung lengket dengan Joomla maka saya tetap setia dengan Joomla. Sampai suatu saat Joomla tidak Open Source lagi. 

Copyright © 2014. All Rights Reserved.